Prinsip dan Teori Budaya Sunda
Prinsip dan Teori Budaya Sunda
Oleh: Nurlathifah Khalifatunnisa, S.Pd.
Prinsip dan teori budaya Sunda adalah panduan hidup
yang dianut oleh etnis Sunda dalam berbagai aspek kehidupannya seperti agama,
pendidikan, sosial, dll. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat
menjungjung tinggi sopan santun dan ramah tamah. Berhubungan dengan prinsip dan
teori budaya Sunda, dalam menjalankan organisasinya, Paguyuban Pasundan
memiliki karakteristik organisasi yang dimanifestasikan
melalui aksi nyatanya. Karakteristik tersebut dinamakan Tri
Jati Diri Paguyuban Pasundan.
Tri Jati Diri Paguyuban Pasundan ini mengadopsi
dari pandangan hidup orang sunda yaitu silih asah, silih asih, dan silih
asuh. Untuk
memperkuat konsep tersebut maka Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si.
sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, menetapkan
Jati diri nya melalui Surat Keputusan Pengurus Besar Paguyuban
Pasundan, nomor: 17/KPTS.PBPP/A/12/2020, tentang Islam dan Sunda, yang meliputi
Pengkuh Agamana, Jembar Budayana, Luhung Elmuna, Nyantri, Nyunda, Nyakola
(Mansyur, 2022: 105).
Konsep
Tri Jati Diri Paguyuban Pasundan ini pada
hakekatnya menunjukan bahwa masyarakat Sunda memiliki filosofi hidup silih
asah, silih asih dan silih asuh sebagai landasan hidup yang berorientasi kepada
pembentukan karakter Kesundaan. Berikut penjelasan yang bisa
membantu kita dalam memahami Tri Jati Diri Paguyuban Pasundan.
1. Pengkuh Agamana – Nyanti – Silih
Asih, adalah konsep hidup etnis Sunda yang berarti teguh dan konsisten dalam
menjalankan agama yang dianut, memiliki akhlak mulia yang menjalin hubungan
dengan Allah Swt. (Habluminallah), dan saling mencintai sesama makhluk
(Habluminannas).
2. Luhung Elmuna – Nyakola – Silih
Asah, adalah konsep ilmiah etnis Sunda yang berarti memiliki ilmu yang
bermanfaat bagikehidupan, menerapkan ilmu dalam berbagai bidang untuk menjadi
insan akademis yang berjiwa intelektual dan mujahid, serta saling mengasah ilmu
dengan sesama.
3. Jembar Budayana – Nyunda – Silih
Asuh, adalah konsep budaya etnis Sunda yang saling membimbing, mendidik,
membantu menyelesaikan permasalahan orang lain, serta mengingatkannya tentang
perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Konsep ini mengandung nilai moral
kebaikan dalam membangun kebersamaan. Sikap ini harus disertai rasa kasih
sayang. Etnis Sunda memiliki
karakter yang dinamakan “Salapan Rawayan” yaitu
cageur (sehat jasmani dan rohani), bageur (baik hati dan budi pekerti), bener
(jujur dan adil), pinter (cerdas dan berilmu), singer (kuat dan tangguh), teger
(tegar dan tabah), pangger (mandiri dan berani), dan wanter (pandai
beradaptasi).
Sebagai calon pendidik yang profesional yang
berasal dari etnis Sunda, kita harus mempelajari prinsip dan teori budaya
Sunda. Dengan mempelajarinya, kita akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman
baru yang sangat berharga berkaitan dengan budaya Sunda. Pada materi ini, kita
belajar mengenai Tri Jati Diri Paguyuban Pasundan yang sangat relevan dengan
karakteristik orang sunda. Materi ini berkaitan dengan konteks sosial-budaya
tatar Sunda karena mengedukasi pembacanya lebih mendalam tentang asal-usul, ciri
khas, dan warisan budaya Sunda yang harus dipraktikkan, dijaga, dan
dilestarikan.
Selain itu, materi ini juga berpengaruh pada cara
pandang, sikap, dan perilaku kita sebagai calon pendidik. Kita akan lebih
menghargai dan mencintai budaya Sunda yang merupakan bagian dari identitas
diri. Kita akan lebih sadar dan konsisten dalam menjalankan ajaran agama yang
dianut dengan memiliki akhlak mulia, memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan
dengan sesama manusia. Kita akan lebih bersemangat dan berprestasi baik dalam
bidang ilmu pengetahuan maupun teknologi dengan memiliki ilmu yang bermanfaat.
Dengan mendalami dan menghayati apa yang telah dipelajari pada materi ini, kelak kita sebagai guru profesional dapat menerapkan prinsip dan teori budaya Sunda ini dalam pembelajaran di sekolah maupun di kelas. Salah satu cara penerapannya adalah dengan menumbuhkan rasa bangga dan rasa cinta peserta didik terhadap budaya Sunda dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan mereka menggunakan prinsip-prinsip dan teori hidup etnis Sunda. Sebagai bahan mengevaluasi hasil atau dampak dari penerapannya, kita dapat menggunakan metode observasi untuk mengamati perubahan perilakunya maupun mengajak mereka membuat refleksi diri mengenai pengalamannya dalam mempelajari dan menerapkan prinsip serta teori budaya Sunda.

Luar biasa mengangkat kembali tema Budaya Sunda yg semakin kesini rasanya semakin memudar oleh kemajuan teknologi, bahkan seringkali dianggap jemu dan kolot oleh kaula muda zaman modern ini. Padahal esensi budaya ketika dijunjung dan diimplementasikan akan sangat bagus untuk kehidupan sosial. Nilai2 spt itulah yg perlu diangkat shga bisa lebih dikenal kembali oleh seluruh lapisan masyarakat dan tetap terlestarikan karena nilai spt itu lintas ruang dan waktu. Jauh lebih bagus ternyata ketika teori budaya direlasikan dg teori tenaga pendidikan, karena tenaga pendidik adalah salah satu komponen yg sangat penting dalam perubahan peradaban.
BalasHapusSangat setuju, masih ada pendidik berasal dari tanah Sunda belum dapat menerapkan prinsip dan teori budaya Sunda dalam kegiatan pembelajaran. Dibutuhkan kerja sama yang baik antara pendidik dan peserta didik agar budaya Sunda dapat dicintai kembali. Sehingga budaya dan nilai-nilai yang ada dalam budaya Sunda dapat dilestarikan dan dikenal oleh banyak khalayak melalui pendidikan di sekolah maupun di kelas.
BalasHapus